Halloween party ideas 2015


Saat penulis mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S1 di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta pada tahun 2009, hati terasa nyaman adem ayem. Salah satu alasannya adalah Yogyakarta Kota Pelajar, yang jelas pasti banyak akademisi di sana, dan penulis berharap mendapatkan banyak perubahan dengan adanya “habitat” baru yang ilmiah. Tempat favorit yang penulis tuju saat masuk ke kampus adalah perpustakaan. Waktu itu penulis mengambil tiga buku sekaligus untuk dibaca.

img pexels.com
Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Penulis beranjak dari rak buku untuk menempati meja baca. Biasanya penulis hanya betah mentok 2 jam-an saat membaca. Di meja sebelah ada cewek yang sedang membaca 4 buku sekaligus. Sudah 2 jam membaca rasa kantuk datang. Lalu penulis memutuskan untuk tidur sejenak di tempat karena memang sebagian pengunjung juga bersandar untuk tidur. Saat penulis terbangun, waktu menunjukkan pukul 12 siang. Tetapi cewek di sebelah tadi masih asyik membaca. Sampai akhirnya adzan berkumandang dan pengunjung perpus banyak yang berhamburan ke mushalla yang telah disediakan.

Setelah shalat, penulis kembali ke tempat semula. Beberapa waktu kemudian datang cewek tadi dan melanjutkan membaca. Sampai akhirnya jam 3 sore si cewek baru beranjak pergi. Dalam hati, busyet. Betah banget baca buku lama-lama. Karena penasaran, esoknya penulis datang ke perpus untuk check it out. Ternyata si cewek ada lagi.

Sampai beberapa hari berikutnya, ternyata si cewek biasanya memang ke perpus. Dari situlah penulis merasa malu, kenapa orang lain mampu tetapi diri sendiri tidak. Akhirnya penulis mengobarkan semangat baca lebih banyak, dan buah manis nikmatnya pengetahuan pun banyak penulis rasakan.

Begitulah, salah satu cara untuk memacu diri agar terbiasa membaca adalah mengaca dari orang lain. Malulah kepada orang yang rajin membaca, maka kita akan ikut-ikutan membaca. Bagi mereka, membaca sudah bukan lagi hal yang melelahkan, melainkan sudah tak terasa, seperti menghirup udara. Jujur bagi penulis, kota Yogyakarta memberi banyak hal luar biasa, salah satunya adalah virus gila membaca.

Di kota Gudeg  ini, banyak ditemukan orang-orang yang keranjingan membaca. Di kendaraan, taman, warung kopi, mall kita bisa dengan mudah menemukan orang yang sedang membaca. Bahkan golongan lansia pun tak mau kalah. Mereka seringkali menghiasi mading (majalah dinding) yang biasa ditemukan di setiap sudut gang.

Tips dan Cara Jitu Agar Gemar dan Suka Membaca

Ada banyak cara jitu agar meningkatkan performa dan stamina kita dalam membaca. Di antaranya adalah:

Ikrarkan Komitmen dan Buatlah Program

Pepatah Arab mengatakan, “Kebenaran yang tidak dimenej dengan baik, akan mudah dikalahkan oleh kebatilan yang termenej dengan baik”. Oleh karenanya, tetapkanlah komitmen dalam diri bahwa “saya akan membaca minimal 5 halaman sehari”, atau “minimal mengkhatamkan satu buku dalam satu bulan.”

Bacakanlah niat, karena setiap amal perbuatan itu efektif jika disertai niat. Niat akan menyamakan visi dan misi antara akal dan jasmani, sehingga semua anggota tubuh akan mendukung apa yang ingin anda capai. Buatlah rencana yang jelas, dan komitmen jelas sehingga anda akan konsisten menjalaninya.

Percayalah! Membaca Adalah Cara Penunjang Hidup yang lebih sukses

Jika seseorang menganggap buku, perpustakaan, dan referensi bacaan lainnya sebagai hal yang biasa saja, sungguh ia telah melewatkan kesempatan yang terbuka lebar untuk menempuh hidup bahagia di masa depan. Tanamkan pada diri anda bahwa membaca merupakan ikhtiar besar sebagai way out super ampuh dalam menjalani hidup. Membaca adalah jalan pintas untuk menuju sukses. Tetapi, kenyataannya banyak dari kita yang menganggap membaca sebagai kegiatan biasa-biasa saja, bahkan menghabiskan waktu dengan percuma.

Mulai sekarang, rubahlah perspektif anda tentang buku. Tanamkan bahwa kebahagiaan ada di perpustakaan. Tunjukkan bahwa anda benar-benar mencintai pendidikan dengan menaruh perhatian pada perpustakaan. Harold Howe, mantan Komisaris Pendidikan Amerika Serikat mengatakan, “What a school thinks about its library is a measure of what it thinks about education. (Apa yang sekolah pikirkan tentang perpustakaan adalah ukuran dari anggapannya tentang pendidikan)”.

Sama dengan kita, apa yang kita pikirkan tentang perpus dan buku, maka itulah anggapan kita tentang pendidikan. Kalau kita menganggap buku tidak terlalu berguna, maka kita juga beranggapan serupa terhadap pendidikan.
Tengoklah Orang Lain

Jika ingin bersyukur maka lihatlah orang yang ada di bawahmu, maka engkau akan mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan kepadamu. Engkau akan tahu bahwa dirimu jauh lebih beruntung daripada mereka. Jika engkau hanya makan nasi dan tempe, maka lihat-lah orang-orang yang lebih sengsara dibanding dirimu. Yang tak tentu ada nasi untuk bisa dimakan hari ini atau tidak. Tetapi dalam hal ilmu pengetahuan, maka tengoklah orang-orang yang ada di atasmu, maka engkau akan tertarik untuk mengikuti jejak mereka.

Konon di negara-negara maju, siswa sekolah menengah wajib khatam membaca sejumlah buku, terutama karya sastra sebelum menyelesaikan studinya. Misalnya, Perancis dan Belanda 22-23 buku per tahun, Jepang 15 buku per tahun, Malaysia 6 buku per tahun begitu pula Thailand 6 buku per tahun. Mereka telah menanamkan progam yang sangat baik untuk masa depan kemajuan bangsanya. Inilah yang harusnya dicontoh oleh masyarakat kita untuk memacu kegiatan membaca anak-anak. Dimulai dari lingkungan kita sendiri.

Jadikan Membaca Sebagai Gaya Hidup

Di banyak negara maju seperti Belanda, membaca sudah menjadi rutinitas harian. Orang Belanda suka membaca, perpustakaan-perpustakaan di Belanda ramai dikunjungi. Hampir semua orang berlangganan Koran dan membaca Koran. Bahkan setiap pemerintah kota setiap tempat membagikan koran lokal secara cuma-cuma bagi yang enggan membeli koran. Toko-toko buku berkembang marak, mereka bahkan menyediakan boekenbon yaitu kartu kupon seharga 5 Euro, 10 Euro, yang diberikan kepada seseorang sebagai hadiah. Dan setiap orang yang menerima hadiah buku dapat memilih sendiri buku yang diinginkannya, sesuai selera.

Sediakan Banyak Bacaan Di Sekitar Anda

Sesuatu yang mudah dijangkau akan lebih mudah menggunakannya daripada sesuatu yang sulit dijangkau. Manusia itu memiliki psikologis yang tertarik secara spontan jika memang hal itu ada. Ingat kata Bang Napi, “Kejahatan itu tidak selalu terjadi hanya karena niat pelakunya, tapi juga kesempatan. Waspadalah, waspadalah!”.

Karena melihat ada dompet, maka seseorang bisa saja secara spontan ingin mencuri. Sama dengan buku, karena melihat maka sepontan ingin membaca. Nah! Dengan menyediakan banyak buku menarik di sekitar anda akan mengundang rasa spontanitas untuk membacanya. Marcus T. Cicero mengatakan, “Sebuah kamar tanpa buku bagaikan tubuh tanpa jiwa.”

Mulailah Dari Bacaan Yang Paling Anda Perlukan

Carilah bacaan yang sesuai dengan dunia anda, niscaya anda akan menemukan sesuatu yang secara tidak sadar sangat anda perlukan. Apakah anda hobi memancing? Maka carilah bacaan yang berkenaan dengan dunia memancing. Atau anda adalah seseorang yang hobi memainkan cabang olah raga basket? Maka carilah bacaan tentang teknik bermain basket.

Ada banyak hal yang akan anda temukan dalam bacaan-bacaan itu, sesuatu yang belum pernah anda duga sebelumnya. Hal ini akan memacu anda untuk menanamkan sebuah pemahaman dalam pikiran bawah sadar anda, bahwa ternyata membaca itu menyenangkan.

Carilah Bacaan Menarik

Menarik tidaknya suatu bacaan itu relatif, tergantung dari masing-masing individu. Menarik bisa dikaitkan dengan hobi atau kesukaan. Tetapi jika anda sulit menemukannya, jangan patah semangat. Carilah buku-buku yang disarankan, dengan mencari kategori best seller di katalog-katalog online. Anda juga bisa menyempatkan diri untuk memilih mengobrol dengan penjaga toko buku untuk menanyakan buku apa yang menarik yang sesuai dengan kriteria anda.

Tanamkan Paham “Membaca Itu Nikmat”

Saat memegang buku, bayangkan anda sedang memegang sepiring ayam bakar pedas manis, yang aromanya menusuk hidung dan rasanya maknyuss. Bukalah tiap lembar buku itu dengan rasa senang riang gembira seakan menyantap ayam bakar tadi. Dengan menganggap membaca itu nikmat, maka anda akan betah membaca.

Tidak bisa? Sulit membuat image bahwa membaca itu nikmat. Pergilah ke perpustakaan dimana banyak orang getol membaca. Lalu pikirkan, bahwa mereka betah sekali membaca, seakan-akan menyantap sesuatu yang lezat. Lalu tanamkan dalam hati, bahwa orang lain menganggap membaca buku itu menyenangkan, maka aku belum bisa menganggap demikian karena pasti belum membacanya.

Buatlah Reminder 

Kata bijak mengatakan manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Oleh karenanya, agar selalu teringat dengan yang namanya “membaca”, maka buatlah reminder (pengingat), berupa segala hal yang bisa mengingatkan anda untuk tidak jauh dari membaca.

Anda bisa menuliskan kata-kata motivasi pengingat di berbagai sudut tempat yang sering anda tempati. Misalnya di meja kerja, dekstop gadget, pintu kamar, pintu kulkas, dan tempat-tempat strategis lainnya. Anda juga bisa mengatur alarm bertajuk membaca buku melalui handphone anda.

Ciptakan Lingkungan Senyaman Mungkin

Suasana dan lingkungan membaca nyaman akan membuat anda lebih fokus dalam membaca. Anda bisa memutar musik untuk menenangkan pikiran dan membawa ke dalam suasana yang lebih slow dan menghayati.

Jagalah kerapian dan kebersihan tempat membaca karena tempat yang kotor bisa mengundang lalat atau nyamuk pengganggu. Lebih bagus lagi apabila disiapkan pula wangi-wangian karena menurut sebagian ulama, minyak wangi mampu meningkatkan daya ingat. Camilan juga perlu agar lebih betah dalam membaca.

Kurangi Kebiasaan Menonton Televisi 

Saat ini banyak sekali acara televisi yang dinilai kurang edukatif terutama bagi anak-anak karena cukup banyak program televisi yang belum disensor. Televisi itu baik karena merupakan media informasi yang menyajikan banyak pengetahuan atau berita yang terjadi di luar sana.

Akan tetapi menonton televisi juga harus selektif, karena banyak sekali acara-acara hiburan yang memberi contoh kurang baik. Pak Jokowi yang saat itu menjabat sebagai Walikota Jakarta mengatakan, “Jaman sekarang, semua orang juga tahu acara TV yang bisa memberikan pendidikan itu yang mana sih ? Ayo, tunjukan ke saya, acara apa? berita juga jelek-jelek terus saja.”

Oleh karenanya, Groucho Marxpun sampai mengatakan, “Saya menemukan televisi sangat mendidik. Setiap kali seseorang ternyata di lokasi syuting, aku pergi ke ruangan lain dan membaca buku.” Kurangilah kebiasan menonton acara televisi yang kurang perlu. Luangkan waktu untuk membaca buku yang lebih bermanfaat.

Persiapkan Diri Optimal

Hakikatnya, membaca buku, terutama buku agama, merupakan ibadah yang mulia. Oleh karenanya, para ulama salaf memiliki kiat tersendiri dalam menyiapkan diri untuk menelaah dan membaca buku. Hal ini dikarenakan saat membaca buku, diharapkan hidayah dan ilmu Allah akan datang dan meresap sehingga ilmu yang didapat penuh berkah. Diantara kiat-kiat itu adalah, wudhu, berdoa, mencari posisi sesuai, dan membaca hamdalah ketika mengakhiri membaca.

Ternyata ada banyak hikmah dibalik kiat ini. Wudhu selain menghilangkan hadas kecil juga bisa menjadikan tubuh segar. Dengan demikian, membaca pun akan lebih fokus. Berdoa menunjukkan kesungguhan. Artinya berdoa sebelum membaca berarti menanamkan harapan agar apa yang dibaca menjadi bermanfaat. Hal ini mampu membuat diri sendiri menjadi lebih optimis akan manfaat membaca.
“Ada kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku, salah satunya adalah tidak membacanya.”˜Joseph Brodsky˜

Sebuah Renungan! Bersyukurlah Kita Hidup Di Negara Merdeka

Kemerdekaan adalah puncak segala kenikmatan. Itulah yang dirasakan Bangsa Indonesia saat memproklamirkan diri sebagai Negara Yang Merdeka, Berdaulat, Adil dan Makmur. Akan tetapi, ada hal yang tak kalah penting dari memperoleh kemerdekaan, yaitu mengisi kemerdekaan itu sendiri. Salah satu cara untuk mengisi kemerdekaan dan mensyukurinya adalah dengan membaca buku. Sutton Elbert Griggs mengatakan, “Seringkali dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk membaca buku daripada untuk bertempur di medan perang.”

Banyak orang hebat yang selalu membaca buku walaupun kemerdekaannya sedang terampas. Bahkan dalam keadaan yang sulit, mereka tetap berjuang untuk bisa membaca. Mereka tak henti-hentinya untuk senantiasa membuka cakrawala ilmu pengetahuan dunia. Nelson Mandela, ketika mendekam dipenjara karena melawan rezim apartheid tak kenal menyerah dalam berusaha memerangi rasisme. Selama di penjara, ia ditemani sebuah buku yang dibawa oleh temannya, Sonny Venkatrathnam berjudul Complete Works of Shakesphere.

Buku itu berhasil diselundupkan dan lolos dari pemeriksaan sipir penjara karena Sonny membungkus buku itu dengan sampul “Kitab Hindu”. Dengan bekal buku itulah Mandela memperkuat pemikirannya tentang usaha melawan rasisme. Mandela memiliki ketertarikan pada bagian “Julius Caesar act II scene II, Cowards die many times before their deaths.” Buku inilah yang turut serta memberikan spirit bagi Mandela, sehingga walaupun ia di penjara, ia telah melakukan lompatan besar menjadi pribadi yang lebih mantap dalam memerangi rasisme.

Entahlah apa yang terjadi pada diri kita. Akses informasi sudah seakan tanpa ada batas. Buku mudah ditemui dimana-mana dan cukup mudah pula jika kita menginginkan bacaan yang ada di luar negeri. Internet sudah merobohkan tembok pembatas akses informasi yang dulu sangat sulit didapat. Tetapi nyatanya masih saja banyak dari kita yang malas membaca.

“Faktor penyebab yang paling dominan (malas membaca bagi mahasiswa) ternyata adalah faktor internal yaitu faktor yang muncul dari dalam diri mahasiswa itu sendiri. Hasil penelitian membuktikan bahwa tidak seorang pun responden yang mempunyai kebiasaan membaca.”
˜Sasmi Farida˜


Powered by Blogger.