Halloween party ideas 2015


Mengapa masyarakat senantiasa mengalami perubahan sosial budaya?

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki sifat dan bentuk sosial yang senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Perubahan itu sebenarnya bersifat mutlak dan tak bisa dihindarkan karena salah satu penyebabnya adalah manusia adalah makhluk yang berpikir dan berkembang. Lalu sebenarnya mengapa masyarakat senantiasa mengalami perubahan sosial budaya?

Di antara alasan mengapa masyarakat dan kelompok komunitas senantiasa mengalami perubahan dari sisi sosial budaya adalah karena masyarakat senantiasa mengalami perubahan jumlah penduduk, munculnya penemuan baru, karena pengaruh konflik dan pemberontakan, adanya perubahan lingkungan hidup atau alam, serta yang tak kalah penting adalah karena adanya pengaruh kebudayaan lain.

Secara rinci, kita bisa memetetakan beberapa faktor terpenting yang menyebabkan perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat sebagai berikut:

1. Adanya Perubahan fisik Lingkungan:

Perubahan geografis tertentu pada sebuah daerah yang dihuni masyarakat bisa menjadi alasan mengapa perubahan sosial terjadi di masyarakat. Bencana alam misalnya dengan perubahan iklim yang ekstrem, badai, erosi, gempa bumi, banjir, kekeringan sangat mempengaruhi kehidupan sosial dan mendorong adanya perubahan sosial. Hal ini karena secara mendasar kehidupan manusia terkait erat dengan kondisi geografis bumi.


Kualitas sebuah peradaban, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari seperti pakaian, bahan makanan dan kebiasaan makan kita, desain tempat tinggal, dll., semuanya dipengaruhi oleh kondisi geografis. Contoh misalnya masyarakat di negara Kazahkhstan memilih hidup di dalam tenda karena mereka adalah bangsa yang berpindah-pindah dengan mata pencaharian berburu. Masyarakat di daerah pedalaman membangun rumah di atas pohon karena menghindari hewan buas.


Adanya perubahan fisik lingkungan memaksa masyarakat tertentu untuk melakukan migrasi dalam jumlah besar dan ini membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial dan nilai-nilai budaya juga. Migrasi itu sendiri mendorong perubahan, karena ia membawa sebuah kelompok ke dalam lingkungan baru, tunduk pada kontak sosial barunya, dan mengharuskan mereka untuk bisa bersesuaian dan bisa mengatasi masalah-masalah baru.

Meskipun demikian, posisi manusia sebagai pihak yang mendapatkan pengaruh lingkungan sudah mulai bergeser. Sekarang manusia berada dalam posisi untuk memengaruhi perubahan dalam lingkungannya. Masyarakat kini sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya tetapi mereka memiliki kapasitas untuk mengubah lingkungan mereka sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Bennett dan Tumin (1949) mengatakan: "Mungkin masuk akal, jika tidak lebih dari itu untuk berpendapat bahwa bahwa manusia mengubah lingkungan fisiknya daripada lingkungan mengubah manusia."

2. Faktor Demografis (Biologis):

Secara umum, demografi adalah pembahasan yang berkaitan dengan ukuran dan struktur populasi manusia. Struktur sosial masyarakat memiliki hubungan yang erat dengan perubahan jumlah masyarakat dan komposisi dari masyarakat itu sendiri. Ukuran jumlah populasi masyarakat secara utama didasarkan pada tiga faktor, yaitu tingkat kelahiran, tingkat kematian dan migrasi (imigrasi dan emigrasi).

Jumlah dan komposisi masyarakat, seperti dari jenis kelamin, jenis pekerjaan, status sosial, peran (pencari nafkah, penerima nafkah), dan lain sebagainya menjadi salah satu sebab adanya perubahan sosial dan budaya. Contoh banyaknya jumlah perempuan yang jauh dibandingkan jumlah laki-laki bisa menyebabkan budaya poligami. Juga sebaliknya.

Komposisi populasi masyarakat tergantung pada variabel-variabel seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, populasi masyarakat yang melek huruf, dll. Perubahan struktur demografis, yang mungkin disebabkan oleh perubahan tingkat kematian, akan menghasilkan perubahan rasio masyarakat berdasarkan perannya, misalnya peran pencari nafkah dan peran yang ditanggung nafkahnya.

Perubahan seperti itu dapat memberi konsekuensi dalam sebuah keluarga, kekerabatan, politik dan institusi lainnya. Ukuran populasi sangat mempengaruhi setiap individu dalam masing-masing masyarakat. Apakah kita dilahirkan dalam populasi yang tumbuh atau menyusut memiliki pengaruh pada pendidikan kita, usia di mana kita menikah, kemampuan kita untuk mendapatkan pekerjaan, pajak yang kita bayar dan banyak faktor lainnya.

Misalnya dalam masyarakat yang memiliki populasi sedikit maka kemungkinan pergerakan ekonomi pun semakin lemah karena jumlah konsumsi pun menurun. Hal ini pastinya bisa menurunkan pendapatkan ekonomi dan bisa mempengaruhi hal lain misalnya pendidikan. Namun terlalu banyak populasi pun juga bisa memperlemah ekonomi dimana bisa memunculkan banyaknya pengangguran yang tak memiliki pendapatan yang layak.

Analisis populasi menunjukkan bahwa ada hubungan antara perubahan populasi dan variabel ekonomi, sosial dan budaya seperti kemiskinan, buta huruf, kesehatan buruk, struktur keluarga, bentuk perkawinan, pekerjaan, dll. Pertumbuhan populasi adalah faktor terpenting yang mempengaruhi angka kemiskinan.

Kemiskinan juga memiliki pengaruh erat terkait dengan kesehatan dan ukuran keluarga. Negara-negara dengan populasi besar (misalnya, Cina dan India) lebih miskin daripada negara-negara yang tidak memiliki banyak populasi. Ketidakseimbangan jenis kelamin memengaruhi bentuk pernikahan (monogami atau poligini). Terlihat bahwa masyarakat, yang memiliki lebih banyak laki-laki daripada perempuan, menggunakan sistem polyandry. Poligini umumnya ditemukan di komunitas-komunitas semacam itu di mana perempuan lebih banyak daripada laki-laki.

Populasi setiap masyarakat selalu berubah baik dalam jumlah maupun komposisi. Perubahan populasi telah terjadi sepanjang sejarah manusia karena migrasi, perang, wabah penyakit, perubahan kebiasaan, dll. Di zaman modern, adopsi dua cara buatan untuk pertumbuhan populasi, yaitu, pengendalian kelahiran dan aborsi juga mempengaruhi jumlah dan komposisi struktur populasi .

Penurunan tingkat kelahiran dan tingkat kematian pun membawa dampak pada transformasi sosial. Dengan perubahan ukuran serta perubahan komposisi peran dalam masyarakat itu sendiri.

3. Faktor Ekonomi:

Dari pengaruh ekonomi, yang paling terlihat dampaknya secara luas adalah adanya kemajuan dalam bidang industrialisasi. Adanya kemajuan industri telah merevolusi seluruh cara hidup masyarakat, lembaga, organisasi dan kehidupan masyarakat itu sendiri. Dalam sistem produksi tradisional, tingkat produksi cukup statis, tak terlalu ada inovasi dan perubahan karena kegiatan produksi disesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan masyarakat.

Kapitalisme industri modern mendorong revisi terus-menerus dari teknologi produksi, dengan memunculkan beragam produk baru dengan banyak varian yang membuat masyarakat menjadi merasa butuh terhadap barang itu.

Contoh perubahan sosial karena faktor ekonomi adalah model gonta-ganti barang jika sudah dianggap tak layak pakai. Pada masyarakat pedesaan, barang yang tak layak disebabkan karena sudah tidak berfungsi secara fisik sesuai fungsinya. Misalnya pakaian yang sudah lusuh atau rusak. Namun bagi masyarakat modern, pakaian bisa tidak terpakai karena sudah tidak modenya.

4. Faktor Politik:

Negara adalah organisasi paling kuat yang mengatur hubungan sosial. Ia memiliki kekuatan untuk membuat undang-undang baru, mencabut yang lama untuk membawa perubahan sosial di masyarakat. Undang-undang ini secara langsung pasti mempengaruhi adanya perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat, meskipun undang-undang juga seringkali dipengaruhi oleh nilai sosial dan budaya setempat.

Undang-undang tentang pernikahan anak, pernikahan janda, perceraian, warisan dan banyak aturan lainnya merupakan beberapa contoh faktor yang telah membawa banyak perubahan dalam struktur sosial masyarakat.

Contoh faktor politik ini adalah semisal mengapa masyarakat tidak memukul anaknya ketika nakal padahal hal itu banyak dilakukan oleh orang tua zaman dahulu? Hal ini karena ada undang-undang perlindungan anak yang menjadikan tindakan itu enggan dilakukan lagi.


Powered by Blogger.