Halloween party ideas 2015


“Membaca buku adalah hiburan bagi orang yang menyendiri, munajat bagi jiwa, dialog bagi orang yang suka mengobrol, kenikmatan bagi orang yang merenung dan pelita bagi yang berjalan ditengah malam.”
˜Dr. Aidh Al-Qarni˜

Banyak riset yang menunjukkan fakta bahwa kebiasaan membaca banyak memberikan kemajuan. Beragam penelitian di dunia pendidikan menghasilkan kesimpulan bahwa kebiasaan membaca mampu meningkatkan hasil prestasi, kreativitas, yang akhirnya memberikan dampak signifikan untuk kemajuan sumber daya manusia. Salah satu problem yang masih menjadi masalah klasik di negeri kita ini adalah kurangnya minat baca sehingga kebiasaan membaca pun banyak diabaikan.
img pixabay.com
Ada banyak hal yang dapat mengganggu kegiatan membaca efektif. Beberapa diantaranya adalah karena kebiasaan malas membaca yang bisa dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Oleh karenanya, cara paling efektif untuk meningkatkan membaca efektif adalah dengan membentuk lingkungan membaca. Lingkungan ini bisa dibentuk baik dalam keluarga, sekolah, komunitas, maupun lembaga swadaya masyarakat. Lingkungan membaca bisa dibentuk oleh individu maupun kelompok tertentu.

Tujuan menciptakan adalah untuk mengajak lebih banyak masyarakat dalam mencintai buku dan membaca. Kegiatan secara berjamaah akan lebih efektif, dan masyarakat akan lebih terdorong untuk gemar membaca karena ketertarikan dari orang-orang yang gemar membaca. Selain itu, lingkungan membaca merupakan cara untuk mengalihkan kegiatan lebih positif sehingga sangat efektif untuk mengisi waktu luang anak-anak muda yang biasanya digunakan untuk nongkrong dan main-main.

Kebiasaan Membaca Masyarakat Yang Masih Lemah

Dr. Vera Ginting, M.A, salah satu pegawai Pusat Perbukuan Depdiknas mengatakan bahwa manfaat dari kegiatan membaca telah banyak diungkap oleh para pakar berbagai bidang disiplin ilmu. Walaupun demikian, kegiatan membaca tidak luput dari pengaruh faktor lain yang membuat seseorang terhambat bahkan tidak melakukan kegiatan ini.

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa masyarakat di lingkungan kita, Indonesia tercinta ini masih tergolong rendah dalam tingkat membaca. Bisa dibilang, masyarakat kita termasuk masyarakat pra-literasi, masyarakat yang masih didonimasi oleh lisan dan obrolan. Banyak pihak yang cukup sadar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang malas membaca buku. Kalau di luar negeri masyarakatnya membeli koran untuk dibaca, tetapi di Indonesia koran dibeli untuk membungkus nasi.

Menurut UNESCO minat baca masyarakat yang paling rendah di ASEAN adalah negara Indonesia dengan masyarakat dengan minat membaca baru sekitar 0,001. Artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Dalam catatan Badan Pusat Statistik Tahun 2006, disebutkan bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama dalam mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%).

Pada tahun 2009, Program for International Student Assessment (PISA) mengadakan survey terhadap beberapa negara mengenai kemampuan membaca, kemampuan matematika, dan kemampuan iptek. PISA adalah penilaian yang dilakukan tiap tiga tahunan oleh lembaga yang berafiliasi dengan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). Negara yang berpartisipasi adalah 34 negara OECD dan 31 negara mitra, termasuk Indonesia, atau kota (Shanghai, China), dan satu wilayah khusus (Hong Kong). Secara keseluruhan, posisi Indonesia berada pada peringkat 57 dari 65 negara. Dalam kemampuan membaca, skor Indonesia adalah 402, sementara skor tertinggi diraih Kota Shanghai, China. Rata-rata, siswa dan siswi di Shanghai menunjukkan kemampuan paling tinggi dalam kemampuan matematika dan iptek (skor 600 dan 575). Adapun untuk kedua bidang tersebut, skor Indonesia adalah 371 dan 401. Berita buruknya adalah pada tahun 2013, Indonesia menempati urutan 64 dari 65 negara yang dikaji oleh PISA. Ini menunjukkan penurunan yang cukup drastis.

Walaupun demikian, kita bisa sedikit lega karena pada tahun 2012, UNESCO memberikan penghargaan kepada Indonesia atas keberhasilannya dalam program-program literasi atau pemberantasan buta aksara dunia. Indonesia bersama Bhutan, Rwanda dan Kolumbia didaulat meraih UNESCO’s Literacy Prizes for 2012. Ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan, walaupun mungkin masih cukup jauh jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya. Jumlah angka buta huruf di Indonesia mencapai 8,5 juta jiwa, 5,1 juta diantaranya adalah perempuan. Jumlah ini menurun dari 2004 lalu dengan 15 juta penduduk buta huruf, namun masih merupakan angka terbesar di dunia, menurut data Kementerian Pendidikan Nasional.

“Anda akan sadar bahwa sebagian besar solusi yang anda temukan hari ini berasal dari bacaan-bacaan di masa lalu.” ˜Anonimous˜

Strategi dan Cara Menciptakan Lingkungan Gemar Membaca Baik di Rumah Atau di Sekolah

Lingkungan membaca ada karena adanya kebiasaan membaca, dan kebiasaan membaca ada karena adanya minat baca. Burs dan Lowe menyatakan beberapa indikator yang menunjukkan adanya minat baca pada seseorang. Seseorang bisa dibilang memiliki minat baca dilihat dari, (1) Kebutuhannya terhadap bacaan, (2) Tindakan untuk mencari bacaan, (3) Rasa senang terhadap bacaan, (4) Ketertarikan terhadap bacaan, (5) Keinginan untuk selalu membaca, (6) Tindak lanjut (menindaklanjuti dari apa yang telah dibaca). Apakah poin-poin tersebut sudah ada pada diri kita?

Untuk menciptakan lingkungan membaca, perlu diketahui beberapa hal yang menghambat kebiasaan membaca. Adapun faktor-faktor yang menjadi penghambat minat baca diantaranya (menurut Prasetono, 2008) adalah: (1) Hadirnya televisi yang menjadikan budaya menonton lebih disukai oleh masyarakat daripada membaca buku. (2) Kebiasaan keluarga yang masih mengedepankan budaya lisan daripada budaya baca tulis. Misalnya saja masyarakat masih menyukai mengobrol daripada membaca. (3) Masih rendahnya motivasi untuk berpacu menjadi lebih maju dan menjadi bangsa yang unggul. (4) Faktor ekonomi masyarakat Indonesia yang sedikit banyak juga mempengaruhi tingkat daya beli dan konsumsi buku oleh masyarakat. (5) Belum banyaknya penerbit dan penulis yang menghasilkan buku yang sangat mengundang minat baca bagi seluruh masyarakat.

Cara Membangun  Lingkungan Gemar Membaca Baik di Rumah Atau di Sekolah

Ada beberapa metode dalam rangka membangun reading environment diantaranya adalah:
Pertama, “To create a healthy reading environment, start with a good supply of reading materials”, “Untuk menciptakan lingkungan membaca sehat, mulailah dengan memberikan suplai yang baik dari bahan bacaan”. Masyarakat tergerak membaca karena ada bacaan yang menarik. Minat membaca tumbuh karena ada buku berkualitas dan menarik sehingga orang pun mau membaca. Bisa jadi bacaan berasal dari buku, koran, majalah, atau bahan bacaan lainnya.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Balitbang Kemdikbud Heri Setiadi mengatakan bahwa jumlah buku yang menarik perlu ditambah agar indeks membaca masyarakat Indonesia yang terbilang rendah dapat meningkat. Beliau mengungkapkan, “Perlu diperbanyak lagi jumlah buku-buku yang menarik untuk dibaca agar masyarakat lebih bergairah untuk membaca”.

Kedua, “Be Reading Role Models”, “Menjadi panutan membaca”. Mulailah dari diri kita sendiri, dan memberikan pengaruh kepada orang lain sebagai panutan dalam menggapai kemajuan. Kita bisa senantiasa mengajak keluarga, teman terdekat, dan orang lain untuk membuka mata betapa bermanfaatnya kebiasaan membaca.

Ketiga, “Start Early”, “Mulai Sejak Dini”. Cara efektif untuk menanamkan membaca adalah sejak anak masih berusia dini. Peribahasa mengatakan, “Anak bagaikan pohon rambat. Jika pohon rambat dibiarkan tumbuh sekehendak hatinya, maka akan tumbuhlah ke segala arah, tanpa tujuan dan tak sedap dipandang. Tapi jika diarahkan bahkan dibentuk, maka akan tumbuhlah sesuai dengan apa yang kita arahkan, indah dan mempesona.” Luangkanlah sedikit waktu untuk membacakan buku kepada anak-anak sejak dini untuk meningkatkan vocabulary mereka. Belikanlah buku sebagai kado istimewa di moment-moment spesial seperti ulang tahun. Ini akan memunculkan perasaan bahwa buku adalah hadiah spesial yang pantas mereka dapatkan.

Keempat, “Making Competition”, “Membuat Kompetisi”. Manusia memiliki otak yang biasa dipilah menjadi otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berkarakter sistematis, teratur, dan sesuai dengan peraturan. Sedangkan otak kanan cenderung kompetitif dan takut gagal sehingga mereka tidak mau mempermalukan diri sendiri. Buatlah kompetisi untuk memacu otak kanan dalam merangsang minat untuk membaca buku. Kompetisi membaca dan memahami cepat adalah salah satu cara untuk membangun lingkungan membaca karena siapapun akan tertantang untuk menjadi yang terbaik.

Beberapa daerah dan lembaga pemerintahan juga berlomba-lomba mengadakan kompetisi membaca agar lebih merangsang minat baca masyarakat. Diantaranya adalah Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat yang mengadakan lomba membaca cerita bagi anak usia dini. Hal yang sama juga sudah diupayakan oleh Perpustakaan Nasional dengan tujuan meningkatkan minat baca dan ketersediaan bacaan.

“Lingkungan membaca tidak serta merta ada. Ia diciptakan, dipelihara, dan memerlukan reboisasi sebagaimana layaknya lingkungan hidup.”

Menjadi Pelopor Untuk Kebiasaan Gemar Membaca

Pelopor adalah agen perintis yang melakukan gerakan pembaharuan atau perubahan. Dalam hal membaca, di lingkungan kita ternyata telah banyak orang-orang mulia yang menjadi pelopor dalam menggerakkan kegiatan aktif membaca. Salah satunya adalah dengan membangun perpustakaan sebagai sarana untuk membaca.

Nursida Syam (usia 34) contohnya. Seorang ibu rumah tangga ini berhasil membangun Sekolah Alam Dan Club Baca Perempuan di lingkungan tempat tinggalnya yang sederhana di Dusun Jambi Anom Desa Sokong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara (KLU). Ia adalah salah satu dari sekian generasi anak bangsa yang bercita-cita ingin bagaimana supaya semua anak-anak maupun orang tua terutama para perempuan para ibu rumahtangga menjadi pecandu buku dan gemar membaca, hingga menjadi cerdas dan berwawasan luas.

Beberapa tahun terakhir, di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Aceh, Banyuwangi, Bondowoso dan Jakarta, pemerintah daerah sedang menggalakkan program perpustakaan keliling. Perpustakaan ini berisi buku-buku bacaan yang diangkut menggunakan mobil ataupun sepeda motor yang dimodif. Masyarakat terlihat antusias dalam merespon program pemerintah ini. Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan metode yang tepat, sebenarnya masyarakat cukup mudah untuk diajak menjadi masyarakat yang gemar membaca.

Dewasa ini Bangsa Indonesia bisa bernafas lega karena di lingkungan kita telah banyak muncul para pelopor yang mendedikasikan hidupnya untuk mendorong masyarakat agar cinta membaca. Seperti Yayasan Nusa Membaca (nusamembaca.org) dimana salah satu mekanisme kerjanya adalah menggalang dana untuk kemudian dibelikan buku dari penerbit dan menyalurkan buku tersebut kepada taman bacaan dan perpustakaan. Berikut Yayasan Indonesia Membaca (indonesiamembaca.net) yang mengabdikan dirinya untuk memajukan dunia pendidikan dengan moto, “Tidak ada warisan lebih berharga daripada pendidikan. Tidak ada kemiskinan lebih menyedihkan daripada kebodohan.”

Hal menarik juga bisa ditemukan di daerah Bandung, dimana beberapa anak muda mendirikan perpustakaan mandiri di kampung-kampung. Kegiatan yang bertujuan menumbuhkan kebiasaan membaca ini ternyata telah menyebar ke beberapa daerah terpencil di Indonesia. Komunitas ini bermula dari hobi membaca dan saling tukar buku antar teman yang gemar membaca. Hobi ini terus dikembangkan dalam kegiatan sosial. Dan akhirnya makin banyak orang yang ikut meminjam maupun meminjamkan buku pribadinya.

Jika diperhatikan, sebenarnya masyarakat Indonesia memiliki potensi minat baca yang luar biasa. Hanya saja perlu ada pelopor atau perintis yang rela mengajak dan mengembangkan potensi baca masyarakat. Masyarakat hanya tidak tahu atau belum mengerti nikmat dan keuntungan dari membaca. Perlu ada campur tangan para pelopor untuk menunjukkan keuntungan membaca bagi masyarakat.

"Manusia yang banyak membaca dan menggunakan otaknya begitu sedikit jatuh ke dalam kebiasaan malas berpikir."
Albert Einsten


Powered by Blogger.