Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kiat Mengatur Keuangan Saat di Pesantren dan Cara Memperlancar Rezeki

“Semua orang pernah mengalami kesulitan keuangan. Kegagalan untuk menyadari arti kemiskinan juga harus dianggap sebagai sebuah kegagalan akan tercapainya kekayaan dan keberhasilan. Terlebih lagi, selalu ada pahlawan yang timbul di tengah orang miskin; hal yang paling baik yang harus dilakukan adalah membuka mata baik-baik dan membusungkan dada.” Aporisma China

Dana merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang santri karena kebutuhan-kebutuhan dalam rangka belajar di pesantren juga ditunjang oleh dana. Di dalam kitab Alâ Lâ Tanâlul Ilma Illâ Bi Sittatin disebutkan bahwa seseorang tidak mendapatkan ilmu kecuali enam perkara, yaitu kecerdasan, kesungguhan, sabar, dana, pengajaran guru, dan lamanya waktu. Saat ini dalam skala mayoritas, untuk mengikuti kegiatan belajar pada sebuah lembaga pendidikan dibutuhkan dana yang tidak kecil jumlahnya. Begitu juga di pesantren. Inilah pentingnya manajemen keuangan bagi santri.
img wikimedia.org
Ada celetukan-celetukan bernada humor perihal santri, bahwa konon seorang santri itu belum bisa disebut ‘santri’ yang sesungguhnya kalau ia belum pernah ‘menghutang.’ Memang menghutang menjadi hal biasa di pesantren karena terkadang banyak persoalan yang terjadi di luar dugaan. Entah kiriman telat, kiriman kurang, kebanyakan jajan sampai lupa kebutuhan, dan berbagai hal lainnya. Tetapi paling tidak ada langkah untuk menyiasati bagaimana agar kita jangan sampai menghutang karena selain bisa merepotkan orang lain, hutang juga cukup berbahaya jika sampai lupa dibawa mati. Nabi Saw. sendiri tidak mau menshalati orang yang masih punya tanggungan hutang.

Bagaimana Memanajemen Keuangan?

Umat Islam didorong untuk bersikap tawassuth (tengah-tengah) dalam segala hal yang artinya “tidak berlebihan juga tidak terlalu kurang.” Semisal dalam masalah cinta, Nabi Muhammad pernah bersabda, “Cintailah kekasihmu dengan sederhana saja, boleh jadi kelak dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah musuhmu dengan sederhana saja, boleh jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu.” (HR. At-Turmudzi). Begitu juga dalam masalah manajemen finansial, santri juga membutuhkan kiat-kiat manajemen dana agar keuangan dapat mencukupi kehidupan di pesantren. Sikap menghambur-hamburkan harta itu tidak baik. Begitu juga sikap terlalu kikir juga tidak baik pula. Begitulah pesan ‘Aidh Abdullah al-Qarny tentang bagaimana memanajemen keuangan.

Berikut ini ada beberapa cara mengelola keuangan yang dapat dipraktekkan oleh santri:

Membuat list Kebutuhan

Anda tentu pernah belajar materi ekonomi tentang macam-macam kebutuhan manusia jika dilihat dari intensitas. Bahwa dilihat dari segi ini manusia memiliki kebutuhan tiga jenis kebutuhan, yaitu kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Langkah tepat untuk mengatur keuangan adalah dengan membuat daftar kebutuhan sehari-hari dengan memperhatikan jumlah pemasukan santri.

Langkah-langkahnya adalah dengan mencatat berapa uang saku yang di dapat dari orang tua atau pendapatan santri jika ia nyantri sambil bekerja. Misal pendapatannya dalam satu bulan adalah 400 ribu rupiah. Maka dibuat daftar jenis kebutuhan santri:
Pertama, Kebutuhan primer yang biasa disebut juga kebutuhan pokok atau dasar, yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi karena sangat penting bagi kelangsungan hidup di pesantren. Contohnya adalah makan, biaya pesantren, biaya sekolah, buku, dan iuran wajib lainnya. Kebutuhan ini jika tidak dicukupi, maka santri mungkin tidak dapat bertahan untuk terus di pesantren. Bagaimanapun juga, kebutuhan primer inilah yang harus didahulukan agar uang dapat dikelola dengan baik. Jika setelah kebutuhan ini dipenuhi ada dana lebih, maka bisa dialokasikan untuk kebutuhan lainnya.

Kedua, kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan sampingan yang dipenuhi setelah kebutuhan primer. Setelah kebutuhan primer tercukupi, sisa uang yang masih ada bisa dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan skunder. Salah satu contohnya adalah jam tangan dan aksesoris lainnya. Sedangkan kebutuhan ketiga, yaitu kebutuhan tersier yang menurut penulis tidak diperlukan oleh santri selama nyantri karena kebutuhan santri adalah bagaimana dapat belajar dengan baik di pesantren. Sedangkan kebutuhan ini termasuk kebutuhan akan barang mewah yang sangat tidak diperlukan santri saat belajar.

Setelah list kebutuhan secara rinci terbentuk, pasang di almari atau tembok yang bisa mudah kita lihat. Dibawah atau di atasnya diberi kata-kata motivasi “Hemat pangkal kaya” atau “Ingat, dirimu bukanlah orang kaya, engkau masih menggantungkan orang tua, janganlah menghambur-hamburkan uang orang tuamu yang telah bekerja demi kesuksesanmu,” agar kita ingat dan bisa mengelola pengeluaran dengan baik.

Berusaha Menabung

Menabung berarti memiliki tujuan agar kita tidak menghambur-hamburkan harta karena kita senantiasa dituntut untuk berhemat. Allah melarang hambanya untuk bertindak boros sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra [17]: Ayat 26-27).

Selain agar kita tidak boros, menabung bagi santri juga punya nilai positif lain yaitu untuk ‘jaga-jaga’ kalau suatu hari nanti ada persoalan mendadak yang menuntut pengeluaran besar. Menyisakan uang saku juga berguna untuk investasi di masa depan. Siapa tahu setelah lulus dari pesantren, uang yang selama ini ditabung bisa digunakan untuk modal berbisnis atau modal untuk berdakwah di masyarakat kelak.

Santri juga harus punya keyakinan bahwa uang yang dikeluarkan dalam menjalani hidup sebagai penuntut ilmu itu tidaklah kemana-mana, bahkan uang itu akan semakin bertambah. Allah menjamin orang-orang yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah akan dilipat gandakan nilai harta yang dikeluarkan tersebut, dan menuntut ilmu adalah termasuk jihad di jalan Allah. Allah berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: ayat 261).

Berusaha Bersedekah

Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, santri juga dianjurkan untuk mengeluarkan sebagian dananya untuk bersedekah. Bersedekah dengan ikhlas merupakan salah satu cara untuk membuka pintu rizki. Syaikh az-Zarnuji menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Mintalah turunnya rizki dengan sedekah.” Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa menghindari sedekah berarti menahan anugerah Allah sebagaimana riwayat Asma’ binti Abu bakar Ra., bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda kepadanya, “Janganlah kamu simpan hartamu untuk menghindari sedekah, maka Allah akan menahan anugerah-Nya kepadamu, infaqkanlah menurut kemampuanmu.” (HR. Al-Bukhari).

Salah satu manfaat dari bersedekah adalah mendapatkan kebaikan yang sempurna. Sebagaimana firman Allah Swt., “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran [3]: 92).

Bersedekah itu dianjurkan sesuai dengan pertimbangan kemampuan masing-masing individu muslim. Diriwayatkan dari Abu Musa Ra. bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda, “Setiap muslim harus bersedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Nabi! bagaimana jika tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan?” Rasululah Saw, pun menjawab, “Bekerjalah, kemudian hasilnya untuk diri sendiri dan untuk bersedekah.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana jika tidak mampu bekerja?” Rasulullah Saw. menjawab, “Berikan pertolongan kepada orang yang memerlukan pertolongan.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana jika itu pun tidak mampu dilakukan?” Rasulullah Saw. menjawab, “Kerjakanlah kebaikan dan hindari keburukan, maka demikian itu bagi seorang muslim bernilai sama dengan sedekah.” (HR. Al-Bukhari).

Bersedekah juga memiliki etika tersendiri. Sedekah paling baik adalah sedekah dengan ikhlas tanpa pamrih. Nabi menggambarkan bahwa saat seseorang bersedekah, tangan kirinya jangan sampai tahu apa yang diperbuat oleh tangan kanan sebagaimana riwayat Abu Hurarah Ra. bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Dan seseorang yang bersedekah dan ia menyamarkannya, sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diperbuat tagan kanannya.” (HR. Al-Bukhari). Maksudnya adalah bersedekah jangan sampai diperlihatkan orang lain dengan tujuan riya’ sampai-sampai digambarkan bahwa tangan kirinya tidak mengetahui yang disedekahkan tangan kanan.

Kiat-kiat Menarik Rizki

Menurut para ulama, tidak ada perkara yang paling efektif dalam urusan membuka pintu rezeki kecuali bertakwa. Allah Swt. berfirman, “…Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. Ath-Thalaq: Ayat 2-3). Dalam ayat tersebut, bagi para muttaqin, Allah akan selalu membukakan pintu rezeki dari arah manapun tanpa disangka.

Syeikh az-Zarnuji banyak menjelaskan tentang cara-cara menarik rezeki dalam satu bab penuh dalam karya beliau yang berjudul Ta’lîm al-Muta’allim. Di antaranya adalah rezeki yang tertutup karena berbuat dosa sebagaimana termaktub dalam sabda Rasulullah Saw., “Hanyalah doa yang merubah takdir, dan hanyalah kebaktian yang bisa menambah usia. Dan sesungguhnya lantaran perbuatan dosanya, rezeki seseorang menjadi tertutup.”

Syeikh az-Zarnuji juga menyebutkan sikap-sikap yang membuat seseorang terhalang rezekinya, di antaranya adalah menulis dengan pena rusak, menyisir dengan sisir yang rusak, tidak mau mendoakan kebaikan kepada orang tua, memakai serban sambil berdiri, memakai celana sambil duduk, kikir, terlalu hemat, atau berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, bermalasan dan menyepelekan suatu urusan. Masih menurut beliau, bangun pagi-pagi itu diberkahi dan membawa berbagai macam kenikmatan, khususnya rizki. Menulis dengan tulisan yang baik itu juga pintu rezeki. Muka berseri dan tutur kata manis juga akan menambah banyak rezeki.

Selain itu, ada juga amalan yang menjadi penyebab utama seseorang memperoleh rezeki, yaitu (1) Melakukan shalat dengan rasa ta'dzim, khusu, menyempurnakan segala rukun, wajib, sunah dan tatakramanya. (2) Melaksanakan shalat dhuha. (3) Membaca surah-surah tertentu seperti al-Waqi’ah, al-Mulk, al-Muzammil, al-Lail dan al-Insyirah khususnya di malam hari sewaktu orang tertidur. (4) Berada di masjid sebelum dikumandangkan adzan. (5) Selalu dalam keadaan suci (baik hadas kecil maupun besar). (6) Melakukan shalat sunat sebelum shubuh. (7) Melaksanakan shalat witir di rumah dan tidak membicarakan urusan dunia setelah melaksanakan shalat witir.[]

“Rezeki itu bukan hanya uang. Rezeki itu meliputi semua rahmat Tuhan bagi kita, yang bisa berupa kesehatan, kedamaian, ilmu, keluarga yang sejahtera dan berbahagia, nama baik, dan pengaruh yang besar untuk memajukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan. Dan yang tertinggi nilainya dari semua rezeki adalah iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Mario Teguh