Halloween party ideas 2015


Story telling secara sederhana berarti menceritakan sebuah kisah. Story telling sendiri bisa jadi sesuatu yang umum kita dengar terutama dalam kelas bahasa Inggris.

Adapun penjelasan lebih lanjut dari Story telling sendiri adalah,  sebuah kegiatan berupa menceritakan ulang sebuah cerita yang berbentuk legenda ataupun fabel dengan cara  menceritakan yang menarik.

Hal ini pun mampu membuat pendengar untuk tertarik mendengarkan cerita itu. Dan biasanya di akhir cerita akan diberikan penjelasan mengenai pesan moral dalam cerita.

Biasanya story telling yang berupa short story telling atau cerita pendek, akan diceritakan kisah yang singkat namun memiliki arti yang mendalam.


Oleh karennaya, storry telling biasanya digunakan sebagai media pembelajaran untuk anak-anak dimana mereka bisa belajar sesuatu yang menginspirasi melalui cerita.

Dalam pelajaran bahasa Inggris, short storry telling biasanya digunakan sebagai tugas karena storry telling memuat banyak sekali materi yang bisa bermanfaat bagi para pelajar.

Tidak hanya itu, di berbagai sekolah, story telling sudah biasa dijadikan sebagai salah satu cabang lomba.

15 Contoh Teks Short Story Telling Atau Cerita Pendek Bahasa Inggris Beserta Artinya
Pada halaman berikut ini adalah referensi short storry telling yang bisa anda gunakan sebagai rujukan, baik untuk materi belajar atau sebagai media pembelajaran kepada anak-anak.

Teks Short Story Telling Atau Cerita Pendek Bahasa Inggris Beserta Artinya

Untuk alur dan format story telling ini, akan dibagi menjadi dua, yaitu storytelling dalam bahasa inggris dan bagian kedua adalah terjemahannya.

1. Storytelling Pertama

firstcry.com

The Needle Tree

There were once two brothers who lived at the edge of a forest. The elder brother was very mean to his younger brother. He ate up all the food and took all his brother’s good clothes. One day, the elder brother went into the forest to find some firewood to sell in the market. As he went around, chopping the branches of tree after tree, he came upon a magical tree.

The tree said to him, ‘Oh kind sir, please do not cut my branches. If you spare me, I will give you golden apples’. The elder brother agreed, but was disappointed with the number of apples the tree gave him. Greed overcame him, and he threatened to cut the entire trunk, if the tree didn’t give him more apples. The magical tree, instead, showered upon the elder brother, hundreds upon hundreds of tiny needles. The elder brother lay on the ground crying in pain as the sun began to lower down the horizon.

The younger brother grew worried and went in search of his elder brother. He found him laying in pain near the tree, with hundreds on needles on his body. He rushed to his brother and removed each needle with painstaking love. After he finished, the elder brother apologised for treating him badly and promised to be better. The tree saw the change in the elder brother’s heart, and gave them all the golden apples they could ever need.


Moral Of The Story

It is important to be kind and gracious, as it will always be rewarded.

Arti Terjemahan Short Story Telling The Needle Tree

Pohon Jarum

Pernah ada dua laki-laki bersaudara yang tinggal di tepi hutan. Sang kakak laki-laki sangat jahat kepada adik laki-lakinya. Dia memakan semua makanan dan mengambil semua pakaian bagus dari saudaranya. Suatu hari, sang kakak lelaki itu pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar buat dijual di pasar. Ketika dirinya sedang berkeliling, memotong cabang-cabang pohon demi pohon, dia menemukan pohon ajaib.

Pohon itu berkata kepadanya, “Oh, Tuan yang baik, tolong jangan memotong dahanku. Jika kamu membiarkanku, aku akan memberimu sebuah apel emas '. Sang kakak pun setuju, tetapi dirinya kecewa dengan jumlah apel yang diberikan pohon itu kepadanya. Keserakahan mengalahkan si kakak, dan dia mengancam akan memotong seluruh batang pohon itu jika pohon itu tidak memberinya apel lebih banyak. Sebaliknya, pohon ajaib itu tiba-tiba menghujani kakak laki-laki itu ratusan jarum kecil. Kakak laki-laki itu berbaring di tanah menangis kesakitan ketika matahari mulai turun ke cakrawala.

Sang adik laki-laki menjadi khawatir dan pergi mencari kakak laki-lakinya. Dia menemukan sang kakak berbaring kesakitan di dekat pohon dengan ratusan jarum di tubuhnya. Sang adik bergegas menuju ke saudaranya dan melepaskan setiap jarum dengan cinta yang sungguh-sungguh. Setelah dia selesai, sang kakak lelaki itu meminta maaf karena telah memperlakukannya dengan buruk dan berjanji akan menjadi lebih baik. Pohon itu melihat perubahan dalam hati kakak lelaki itu, dan memberi mereka semua apel emas yang bisa mereka butuhkan.

Pesan moral dalam cerita

Adalah penting untuk bersikap baik dan ramah, karena sikap baik dan ramah akan selalu dihargai.

2. Storytelling kedua

Counting Wisely

Akbar once put a question to his court that left everyone puzzled. As they all tried to figure out the answer, Birbal walked in and asked what the matter was. They repeated the question to him.

‘How many crows are there in the city?’


Birbal immediately smiled, went up to Akbar, and announced that the answer to his questions was twenty-one thousand, five hundred and twenty-three. When asked how he knew the answer, Birbal replied, ‘Ask your men to count the number of crows. If there are more, then the crows’ relatives from outside the city are visiting them. If there are fewer, then the crows are visiting their relatives outside the city.’ Pleased with the answer, Akbar presented Birbal with a ruby and pearl chain.

Moral of The Story

Having an explanation for your answer is just as important as having an answer.

Arti Terjemahan Short Story Telling Counting Wisely

Menghitung dengan Bijak

Akbar pernah mengajukan pertanyaan ke istananya yang membuat semua orang bingung. Ketika mereka semua mencoba mencari jawabannya, Birbal berjalan masuk dan bertanya ada apa. Mereka mengulangi pertanyaan itu kepadanya.

"Ada berapa banyak gagak di kota ini?"

Birbal segera tersenyum, pergi ke Akbar, dan mengumumkan bahwa jawaban atas pertanyaannya adalah dua puluh satu ribu lima ratus dua puluh tiga.

Ketika ditanya bagaimana dia tahu jawabannya, Birbal menjawab, ‘Minta anak buahmu untuk menghitung jumlah gagak. Jika ada lebih banyak, maka kerabat gagak dari luar kota mengunjungi mereka. Jika jumlahnya lebih sedikit, maka gagak mengunjungi kerabat mereka di luar kota. 'Senang dengan jawabannya, Akbar memberi Birbal sebuah rantai ruby ​​dan mutiara.

Pesan moral dalam cerita

Memiliki penjelasan untuk jawaban Anda sama pentingnya dengan memiliki jawaban.

3. Storytelling ketiga

The Boy Who Cried Wolf

There was once a boy whose father one day told him that he was, now, old enough to watch over the sheep while they were grazing. Every day, he had to take the sheep over the grass fields and watch them as they grazed to become strong with thick wool. The boy was unhappy though. He wanted to run and play, not watch the boring sheep. So, he decided to have some fun instead. He cried ‘Wolf! Wolf!,’ until the entire village came running with stones to chase away the wolf before it could eat any of the sheep. Once they saw that there was no wolf, they left muttering under their breath about how the boy was wasting their time and giving them a good fright while at it. The next day, the boy cried once more,‘Wolf! Wolf!’ and, again, the villagers rushed there to chase the wolf away.


As the boy laughed at the fright he had caused, the villagers left, some angrier than the others. The third day, as the boy went up the small hill, he suddenly saw a wolf attacking his sheep. He cried as hard as he could, ‘Wolf! Wolf! WOLF!’, but the villagers thought he was trying to fool them again and did not come to rescue the sheep. The little boy lost three sheep that day, all because he falsely cried wolf.

Moral of The Story

Do not make stories up for attention, for no one will help you when you actually need it.

Bocah Yang Menangis (dengan tangis) Serigala

Pernah ada seorang anak lelaki yang ayahnya suatu hari memberitahunya bahwa dia, sekarang, cukup umur untuk menjaga domba ketika mereka sedang merumput. Setiap hari, ia harus membawa domba-domba itu ke padang rumput dan mengawasinya saat mereka merumput agar menjadi kuat dengan wol tebal.

Bocah itu tidak senang. Dia ingin berlari dan bermain, bukan menonton domba yang membosankan. Jadi, dia memutuskan untuk bersenang-senang. Dia menangis ‘Serigala! Serigala !, ’sampai seluruh desa datang berlari membawa batu untuk mengusir serigala sebelum bisa memakan domba mana pun.

Begitu mereka melihat bahwa tidak ada serigala, mereka bergumam tentang bagaimana bocah itu membuang-buang waktu mereka dan memberi mereka ketakutan yang baik saat melakukannya. Keesokan harinya, bocah itu menangis sekali lagi, ‘Serigala! Serigala! 'Dan, sekali lagi, penduduk desa bergegas ke sana untuk mengusir serigala itu.

Ketika bocah itu menertawakan ketakutan yang ditimbulkannya, penduduk desa pergi, beberapa lebih marah daripada yang lain. Hari ketiga, ketika anak lelaki itu naik ke bukit kecil, dia tiba-tiba melihat serigala menyerang domba-dombanya.

Dia menangis sekeras yang dia bisa, ‘Serigala! Serigala! Serigala! ’, Tetapi para penduduk desa mengira ia berusaha menipu mereka lagi dan tidak datang untuk menyelamatkan domba-domba itu. Bocah laki-laki itu kehilangan tiga domba pada hari itu, semua karena dia salah serigala.

Pesan moral dalam cerita

Jangan membuat cerita menjadi perhatian, karena tidak ada yang akan membantu Anda ketika Anda benar-benar membutuhkannya.

4. Storytelling keempat

The Golden Touch

This is the story of a very greedy rich man who chanced upon meeting a fairy. The fairy’s hair was caught in a few tree branches. Realising he had an opportunity to make even more money, he asked for a wish in return for helping the fairy. He said, ’All that I touch should turn to gold’, and his wish was granted by the grateful fairy.

The greedy man rushed home to tell his wife and daughter about his new boon, all the while touching stones and pebbles and converting them into gold. Once he got home, his daughter rushed to greet him. As soon as he bent down to scoop her up in his arms, she turned into a gold statue. He realised his folly and spent the rest of his days searching for the fairy to take away his wish.


Moral of The Story

Greed will always lead to downfall.

Sentuhan Emas

Ini adalah kisah tentang orang kaya yang sangat rakus yang kebetulan bertemu seorang peri. Rambut peri itu tersangkut di beberapa cabang pohon. Menyadari ia memiliki kesempatan untuk menghasilkan lebih banyak uang, ia meminta permohonan sebagai imbalan karena telah membantu peri. Dia berkata, 'Semua yang saya sentuh harus berubah menjadi emas', dan keinginannya dikabulkan oleh peri bersyukur.

Pria serakah itu bergegas pulang untuk memberi tahu istri dan putrinya tentang anugerah barunya, sambil menyentuh batu dan kerikil dan mengubahnya menjadi emas. Begitu dia sampai di rumah, putrinya bergegas menyambutnya. Begitu dia membungkuk untuk mengangkatnya ke dalam pelukannya, dia berubah menjadi patung emas. Dia menyadari kebodohannya dan menghabiskan sisa hari-harinya mencari peri untuk mengambil keinginannya.

Pesan moral dalam cerita

Keserakahan akan selalu menyebabkan kejatuhan.

5. Storrytelling kelima

The Milkmaid and Her Pail

Patty the milkmaid had finished milking her cow, and had two full pails of fresh creamy milk. She put both pails of milk on a stick and set off to the market, to sell them. Along the way, she started to think of all the milk in her pails, and the money she would get for them.

“Once I get the money, I’ll buy a chicken,” she thought. “The chicken will lay eggs and I will get more chickens. They’ll all lay eggs, and I can sell them for more money. Then, I’ll buy the house on the hill and be the envy of everyone in the village. They’ll ask me to sell the chicken farm, but I’ll toss my head like ‘this’, and refuse”. So saying, Patty, the milkmaid tossed her head, and the pails of milk fell. The milk spilled onto the ground, and all Patty could do was cry.

Moral of The Story

Do not count your chickens before they hatch.

The Milkmaid dan Embernya

Patty si pemerah susu telah selesai memerah susu sapinya, dan memiliki dua ember penuh susu krem ​​segar. Dia menaruh kedua ember susu di atas tongkat dan pergi ke pasar, untuk menjualnya. Sepanjang jalan, dia mulai memikirkan semua susu dalam embernya, dan uang yang akan dia dapatkan untuk mereka.

"Setelah saya mendapatkan uang, saya akan membeli ayam," pikirnya. “Ayam itu akan bertelur dan saya akan mendapat lebih banyak ayam. Mereka semua bertelur, dan saya bisa menjualnya untuk lebih banyak uang. Lalu, saya akan membeli rumah di atas bukit dan menjadi iri semua orang di desa. Mereka akan meminta saya untuk menjual peternakan ayam, tetapi saya akan melemparkan kepala saya seperti ‘ini’, dan menolak ”. Sambil berkata, Patty, si pemerah susu melemparkan kepalanya, dan ember susu jatuh. Susu tumpah ke tanah, dan yang bisa dilakukan Patty hanyalah menangis.

Pesan moral dalam cerita

Jangan menghitung ayam Anda sebelum menetas.

6. Storytelling keenam

When Adversity Knocks

This is a story explaining how adversity is met differently by different people. Asha’s father placed an egg, a potato, and some tea leaves in three separate vessels with boiling water. He asked Asha to keep an eye on the vessels for ten minutes. Once these ten minutes were over , he asked Asha to peel the potato, peel the egg and strain the tea leaves. Asha was left puzzled.

Her father explained , ‘Each of these items was put in the same circumstance of boiling water. See how they’ve responded differently. The potato is now soft, the egg is now hard, and the tea has changed the water itself. We are all like one of these items. When adversity calls, we respond in exactly the way they have. Now, are you a potato, an egg, or tea leaves?’

Moral Of The Story

We can choose how to respond to a difficult situation.

Saat Kesulitan Mengetuk

Ini adalah kisah yang menjelaskan bagaimana kesulitan bertemu secara berbeda oleh orang yang berbeda. Ayah Asha menempatkan telur, kentang, dan beberapa daun teh di tiga wadah terpisah dengan air mendidih. Dia meminta Asha untuk mengawasi kapal selama sepuluh menit. Setelah sepuluh menit ini berlalu, ia meminta Asha untuk mengupas kentang, mengupas telur dan menyaring daun teh. Asha dibiarkan bingung.

Ayahnya menjelaskan, ‘Masing-masing barang tersebut diletakkan dalam keadaan yang sama dengan air mendidih. Lihat bagaimana mereka merespons secara berbeda. Kentang sekarang lunak, telur sekarang keras, dan teh telah mengubah air itu sendiri. Kita semua seperti salah satu dari barang-barang ini. Ketika kesulitan memanggil, kami merespons persis seperti yang mereka miliki. Sekarang, apakah Anda kentang, telur, atau daun teh? "

Pesan moral dalam cerita

Kita dapat memilih bagaimana menanggapi situasi yang sulit.

7. Storytelling ketujuh

The Proud Rose

Once upon a time there was a rose who was very proud of her beautiful looks. Her only disappointment was that she  grew next to an ugly cactus. Every day, the rose would insult the cactus on his looks while the cactus stayed quiet. All the other plants in the garden tried to make the rose see sense, but she was too swayed by her own beauty.

One summer, the well present in the garden grew dry, and there was no water for the plants. The rose began to wilt. She saw a sparrow dip her beak into the cactus for some water. Though ashamed, she asked the cactus if she too could have some water. The kind cactus readily agreed and they both got through the tough summer as friends.

Moral of The Story

Never judge someone by the way they look.

Mawar yang Bangga

Suatu ketika ada mawar yang sangat bangga dengan penampilannya yang cantik. Satu-satunya kekecewaannya adalah dia tumbuh di sebelah kaktus yang jelek. Setiap hari, mawar akan menghina kaktus pada penampilannya sementara kaktus tetap diam. Semua tanaman lain di taman itu berusaha membuat bunga mawar itu masuk akal, tetapi ia terlalu terpengaruh oleh kecantikannya sendiri.

Suatu musim panas, sumur yang ada di kebun menjadi kering, dan tidak ada air untuk tanaman. Mawar mulai layu. Dia melihat burung gereja mencelupkan paruhnya ke dalam kaktus untuk air. Meskipun malu, dia bertanya pada kaktus apakah dia juga bisa mendapatkan air. Kaktus yang baik hati setuju dan mereka berdua melewati musim panas yang sulit sebagai teman.

Pesan moral dalam cerita

Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya.

8. Storytell kedelapan

The Tale of the Pencil

Raj was upset because he had done poorly in his English test. His grandmother sat beside him, and gave him a pencil. A puzzled Raj looked at his grandma and said he didn’t deserve a pencil after his performance in the test.


His grandma explained, ‘You can learn a great many things from this pencil because it is just like you. It experiences a painful sharpening, just the way you have experienced the pain of not doing well on your test. However, it will help you be a better student.

Just as all the good that comes from the pencil is from within itself, you will also find the strength to overcome this hurdle. And finally, just as this pencil will make its mark on any surface, you too shall leave your mark on anything you choose to’. Raj was immediately consoled and promised himself that he would do better.

Moral of The Story

We all have the strength to be who we wish to be.

Cerita tentang Pensil

Raj kesal karena dia berprestasi buruk dalam tes bahasa Inggrisnya. Neneknya duduk di sampingnya, dan memberinya pensil. Raj yang bingung menatap neneknya dan berkata bahwa dia tidak pantas mendapatkan pensil setelah penampilannya dalam ujian.

Neneknya menjelaskan, ‘Anda dapat belajar banyak hal dari pensil ini karena sama seperti Anda. Ini mengalami penajaman yang menyakitkan, persis seperti Anda mengalami rasa sakit karena tidak berhasil dengan baik pada ujian Anda. Namun, ini akan membantu Anda menjadi siswa yang lebih baik.

Sama seperti semua kebaikan yang berasal dari pensil berasal dari dalam dirinya sendiri, Anda juga akan menemukan kekuatan untuk mengatasi rintangan ini. Dan akhirnya, sama seperti pensil ini akan membuat tanda pada permukaan apa pun, Anda juga harus meninggalkan tanda pada apa pun yang Anda pilih untuk '. Raj segera terhibur dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan yang lebih baik.

Pesan moral dalam cerita

Kita semua memiliki kekuatan untuk menjadi yang kita inginkan.

9. Storytelling kesembilan

The Crystal Ball

Nasir found a crystal ball behind a banyan tree in his garden. When the tree told him it would grant him a wish, he thought and thought, but could not come up with anything he wanted. So, he kept the crystal ball in his bag and waited till he could decide on his wish. Days went by without him making a wish but his best friend saw him looking at the crystal ball. He stole it from Nasir and showed it to everyone in the village. They all asked for palaces and gold, but could not make more than one wish. In the end, everyone was angry because no one could have everything they wanted. They became very unhappy and decided to ask Nasir for help. Nasir wished that everything would become as it once was, before the villagers had tried to satisfy their greed. The palaces and gold vanished and the villagers grew happy and content once again.

Moral of The Story

Money and wealth do not bring happiness.

Bola Kristal

Nasir menemukan bola kristal di belakang pohon beringin di kebunnya. Ketika pohon itu memberitahunya bahwa itu akan memberinya harapan, dia berpikir dan berpikir, tetapi tidak dapat menemukan apa pun yang dia inginkan. Jadi, dia menyimpan bola kristal di tasnya dan menunggu sampai dia bisa memutuskan keinginannya.

Hari berlalu tanpa dia membuat permintaan, tetapi sahabatnya melihatnya melihat bola kristal. Dia mencurinya dari Nasir dan menunjukkannya kepada semua orang di desa. Mereka semua meminta istana dan emas, tetapi tidak dapat membuat lebih dari satu keinginan. Pada akhirnya, semua orang marah karena tidak ada yang bisa memiliki semua yang mereka inginkan. Mereka menjadi sangat tidak bahagia dan memutuskan untuk meminta bantuan Nasir.

Nasir berharap segalanya akan menjadi seperti dulu, sebelum para penduduk desa berusaha memuaskan ketamakan mereka. Istana dan emas lenyap dan penduduk desa menjadi bahagia dan puas sekali lagi.


Pesan moral dalam cerita

Uang dan kekayaan tidak membawa kebahagiaan.

10. Storytelling kesepuluh

Bundle of Sticks

Three neighbours were having trouble with their crops. All three fields had crops that were wilting and infested with pests. Each day, they would try different ideas to help their crops. The first one tried using a scarecrow, the second used pesticides, and the third built a fence on his field, all to no avail. One day, the village head came by and called all three farmers. He gave them each a stick and asked them to break it. The farmers could break them easily. He then gave them a bundle of three sticks, and again, asked them to break it. This time, the farmers struggled to break the sticks. The village head said, ‘Together, you are stronger than when you work alone’. The farmers pooled their resources and got rid of the pests in their fields.

Moral of The Story

There is strength in unity.

Bundel Tongkat

Tiga tetangga mengalami kesulitan dengan hasil panen mereka. Ketiga ladang memiliki tanaman yang layu dan penuh dengan hama. Setiap hari, mereka akan mencoba berbagai ide untuk membantu panen mereka.

Yang pertama mencoba menggunakan orang-orangan sawah, yang kedua menggunakan pestisida, dan yang ketiga membangun pagar di ladangnya, semuanya sia-sia. Suatu hari, kepala desa datang dan memanggil ketiga petani itu. Dia memberi mereka masing-masing tongkat dan meminta mereka untuk mematahkannya.

Para petani bisa dengan mudah memecahkannya. Dia kemudian memberi mereka seikat tiga batang, dan sekali lagi, meminta mereka untuk mematahkannya. Kali ini, para petani berjuang untuk mematahkan tongkat. Kepala desa berkata, "Bersama-sama, Anda lebih kuat daripada ketika Anda bekerja sendirian". Para petani mengumpulkan sumber daya mereka dan menyingkirkan hama di ladang mereka.

Pesan moral dalam cerita

Ada kekuatan dalam persatuan.

11. Storytelling kesebelas

A Glass of Milk

As Hari walked home after school one day, he suddenly felt faint with hunger and knew his mother would not have any food ready for him at home. He grew desperate and went from house to house asking for food. Finally, a girl gave him a tall glass of milk. When he tried to pay her she refused and sent him on his way. Years later, the girl, now a grown woman, fell very sick and could not find anyone who could cure her. Finally, she went to a large hospital with the city’s greatest doctor. The doctor spent months treating the woman until she was finally cured. The woman was happy but was also afraid she could not pay the bill. When the hospital handed the bill to her, she opened it to read, ‘Paid in full, with a glass of milk’.

Moral of The Story

A good deed never goes unrewarded.


12. Storytelling keduabelas

The Fox and the Grapes
A fox was once very hungry and went in search of some food. He searched everywhere, but couldn’t find anything that he could eat. Finally, with his stomach rumbling, he came upon a farmer’s wall. On top of the wall were the biggest, juiciest grapes the fox had ever seen. The rich purple colour told the fox that they were ready to be eaten. The fox jumped high in the air to catch the grapes in his mouth, but he missed. He tried once more, and missed again. He tried a few more times, but kept missing. Finally, the fox decided to go home all the while muttering, ‘I’m sure the grapes were sour anyway’.

Moral of The Story
It’s easy to hate what you can’t have.

13. Storytelling ketigabelas

The Ant and the Grasshopper
There were two best friends – an ant and a grasshopper. The grasshopper liked to relax the whole day and play his guitar. The ant, however, would work hard all day. He would collect food from all corners of the garden, while the grasshopper relaxed, played his guitar, or slept. The grasshopper would tell the ant to take a break every day, but the ant would refuse and continue his work. Soon, winter came. The days and nights became cold and very few creatures went out. The grasshopper couldn’t find any food and was hungry all the time. However, the ant had enough food to last through the winter, without any worries at all.

Moral of The Story
Make hay while the sun shines.

14. Storytelling keempatbelas

The Wet Pants

Ajay was a small boy who loved his school and schoolmates. One day, as he sat at his desk, he suddenly felt damp and realized he had wet his pants! Mortified, Ajay did not know what to do or say, as he knew everyone in class would make fun of him for wetting his pants. He sat at his desk, praying for any kind of help. Diksha was carrying water in a jug to water the class plants. As she approached Ajay’s desk, she suddenly tripped and dumped the whole contents of the jug onto his lap. Everyone rushed to help Ajay. The teacher reprimanded Diksha and gave Ajay a spare set of shorts. At the end of the day, Ajay met Diksha on the bus. He asked, ‘You did that on purpose didn’t you?’ Diksha replied, ‘I’ve wet my pants before too.’

Moral of The Story

Help others in need.

15. Storytelling kelimabelas

The Bear and Two Friends

Two best friends were walking a lonely and dangerous path through a jungle. As the sun began to set, they grew afraid, but held on to each other. Suddenly, they saw a bear in their path. One of the boys ran to the nearest tree and climbed it within a jiffy. The other boy did not know how to climb trees by himself, so he lay on the ground, pretending to be dead. The bear approached the boy on the ground and sniffed around his head. After appearing to whisper something in the boy’s ear, the bear went on its way. The boy on the tree climbed down and asked his friend what the bear had whispered in his ear. He replied, ‘Do not trust friends who do not care for you.’

Moral of The Story

A friend in need is a friend indeed.

Beruang dan Dua Teman

Dua sahabat sedang berjalan di jalan yang sepi dan berbahaya melalui hutan. Saat matahari mulai terbenam, mereka menjadi takut, tetapi berpegangan satu sama lain. Tiba-tiba, mereka melihat beruang di jalan mereka. Salah satu anak lelaki berlari ke pohon terdekat dan memanjatnya dalam sekejap. Bocah yang lain tidak tahu cara memanjat pohon sendirian, jadi dia berbaring di tanah, berpura-pura mati. Beruang itu mendekati bocah itu di tanah dan mengendus-endus di sekitar kepalanya. Setelah muncul untuk membisikkan sesuatu di telinga bocah itu, beruang itu melanjutkan perjalanannya. Bocah lelaki di pohon itu turun dan bertanya kepada temannya apa yang dibisikkan beruang itu di telinganya. Dia menjawab, "Jangan percaya teman yang tidak peduli padamu."

Pesan moral dalam cerita

Teman yang membutuhkan memang teman.
Itulah informasi tentnag contoh teks short story, jika anda mencari informasi tentang 10 contoh teks short story telling maka di atas telah disediakan 15 teks yang semoga bisa bermanfaat untuk anda.

Adapun contoh teks short story telling ini bisa anda gunakan untuk beragam tujuan, mulai belajar bahasa Inggris, materi pidato, juga sebagai materi cerita untuk anak-anak.

Contoh text short story di atas di ambil dari cerita-cerita yang telah umum dan populer.

Kelimabelas teks cerita di atas bisa anda ambil beberapa dalam hitungan saja sebagai tugas jika perlu, misalnya anda mendapatkan tugas untuk mencari 9 contoh teks short story telling bahasa inggris beserta artinya maka anda bisa mengambil semblian buah saja.

Selain diseubt dengan short telling story, contoh teks di atas juga bisa disebut dengan contoh teks narrative short story beserta artinya. Jadi sebenarnya telling dan narrative itu memiliki tujuan yang sama yaitu menceritakan.


Powered by Blogger.