Halloween party ideas 2015


Hikmah Turunnya Al-Quran secara Berangsur-angsur / img muwatta.com
Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad dalam kurun waktu 23 tahun. Selama kurun waktu itu, al-Quran yang disampaikan kepada nabi melalui perantara malaikat jibril itu pun diterima nabi pada berbagai tempat, waktu dan peristiwa.

Ada yang diterima nabi saat berada di perjalanan, ada juga yang diterima nabi pada saat berada di rumah. Ada juga wahyu yang turun karena ada pertanyaan para sahabat ada juga wahyu yang tiba-tiba turun untuk menunjukkan manusia pada kebenaran atau ajaran Islam.

Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya, al-Quran tidak turun sekaligus satu kitab langsung kepada nabi. Kitab-kitab sebelumnya semisal injil, kitab itu turun kepada Nabi Isa secara lengkap dalam satu jenis kitab secara langsung.

Lalu mengapa bisa demikian? Mengapa al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur tidak sekaligus satu waktu? Berikut ini kangdidik.com akan mengajak pembaca untuk menelusuri mengapa dan apa hikmah akan turunnya al-Quran secara berangsur-angsur.

Hikmah Diturunkannya Al-Quran secara Berangsur-angsur Tidak Sekali Waktu Sebagaimana kitab-kitab sebelumnya.

Para ulama berpedapat bahwa al-Quran yang diturunkan secara berangsur-angsur ini memiliki manfaat secara besar sebagaimana bisa kita bahas melalui poin per poin sebagaimana berikut ini:

1. Meneguhkan dan Mengokohkan hati Nabi Muhammad SAW

Hikmah pertama dari turunnya al-Quran secara berangsur-angsur ini adalah untuk meneguhkan dan menguatkan hati Nabi Muhammad Saw. 

Hal ini diistilahkan oleh para ulama dengan:
تثبيت فؤاد النبيّ صلّى الله عليه وسلّم
Meneguhkan Hati Nabi Muhammad Saw
Adapun hikmah ini didasarkan pada firman Allah SWT:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا. وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا.
Berkatalah orang-orang yang kafir, "Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berturut-turut dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. 
Dari ayat di atas ternyata alasan dan hikmah mengapa al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur itu sudah disebutkan secara jelas dalam ayat itu, bahwa tujuannya adalah supaya hati nabi menjadi kuat. Hal ini seperti misalnya, jika ada sebuah masalah, maka al-Quran akan turun untuk menjawabnya. Hal semacam ini menunjukkan bahwa al-Quran menjadi sebuah sarana berkomunikasinya nabi dengan Allah Swt, bahwa Allah senantiasa memperhatikan apa yang diusahakan oleh Nabi Muhammad.

Beberapa ayat pun berisi penghibur kepada nabi dan umat Islam dimana saat ada kesulitan yang besar al-Quran turun untuk memberi kabar gembira bahwa akhirat akan menjadi tujuan yang sangat baik dengan kenikmatan yang besar.

Begitu pula jika ada masalah, nabi akan menunggu wahyu sehingga hal ini pun menunjukkan bahwa kedatangan wahyu itu merupakan pemecah masalah, sehingga hati nabi semakin kuat untuk memperjuangkan agama Islam begitu pula orang-orang mukmin.

2. Memberikan Kemudahan bagi Umat Islam Untuk Bisa menghafal, memahami serta mengamalkan ajaran al-Quran

Al-Quran berisi petunjuk dari Allah yang tujuannya adalah supaya diamalkan. Setiap jengkal kata, ayat dan isi al-Quran wajib untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan seorang muslim. Hal ini menuntut adanya proses untuk mengamalkan keseluruhan al-Quran.

Di dalam al-Quran pun disebutkan bahwa al-Quran diturunkan secara terpisah berangsur-angsur dengan tujuan agar dibacakan dan diajarkan perlahan untuk manusia. 
وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيْلاً
“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Isra’: 106)
Bayangkan jika al-Quran yang berisi 6 ribuan ayat dengan berbagai petunjuk dan perintahnya harus difahami secara keseluruhan jika turun sekaligus pasti akan membuat umat Islam zaman nabi merasa berat. Hal inilah yang menjadikan turunnya al-Quran secara berangsur-angsur menjadi kemudahan dan keringanan yang besar bagi umat Islam.

Para sahabat memiliki waktu lebih untuk berkesempatan memahami ayat al-Quran dan menghafalkan sekaligus mengamalkannya. Konon para sahabat tidak mempelajari ayat lain hingga mereka menghafal dan mengamalkan tiap 10 ayat al-Quran.

3. Memberi semangat Umat Islam Untuk Melaksanakan ayat yang Turun
Al-Quran yang turun karena adanya sebab biasanya diturunkan sebagai respon atau jawaban terhadap pertanyaan atau kejadian yang terjadi di tengah-tengah kehidupan mereka. Dengan turunnya ayat sebagai jawaban pertanyaan atau masalah itu, akan menjadikan umat Islam lebih memahami ayat serta bersemangat untuk melaksanakan isi dari ayat. 

Seakan umat Islam pun memiliki harapan agar al-Quran turun menyelesaikan jawaban dan masalah mereka, dimana setiap ayat yang turun membawa kebahagiaan dan menjadikan hidup lebih tenang.

4. Pemberlakuan Syariat Secara Bertahap Hingga Syariat Menjadi Sempurna

Bagi umat muslim di masa awal yang berada dalam kehidupan jahiliyah, pasti pemberlakuan syariat menjadi hal yang berat jika diberlakukan secara langsung dan penuh. Hal ini karena perbuatan tercela masyarakat jahiliyah sudah menjadi kebiasaan yang pastinya sulit untuk dihilangkan.

Misalnya saja masyarakat jahiliyah suka sekali minum khamar dan pastinya jika pelarangan khamar dilakukan secara langsung sepenuhnya pasti hal itu menjadi berat. Namun ayat al-Quran yang mengharamkan khamar turun secara bertahap, mulai dari sindiran, khamar yang bermanfaat namun ada dosa besarnya, larangan minum khamar saat shalat dan terkhir larangan tegas bahwa khamar adalah haram.

وَمِن ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا
Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Qs. Al-Nahl: 67.

Ayat di atas adalah ayat pertama yang berbicara tentang dilarangnya khamar. Tidak ada kata larangan di atas, namun redaksi ayat yang membandingkan antara kata memabukkan dan rezeki yang baik seakan hendak mengatakan bahwa khamar itu adalah hal yang buruk.

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيْهِمَا إِثْمٌ كَبِيْرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَا
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan berupa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (Q.S. Al-Baqarah: 219)
Di ayat kedua ini, disebutkan bahwa khamar itu ada dosa yang besar dan ada manfaat bagi manusia. Namun dosanya lebih besar daripada manfaatnya.

Lalu pada ayat selanjutnya disebutkan larangan meskipun hanya terbatas pada saat hendak shalat:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا لاَ تَقْرَبُوا الصَّلَوةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُوْلُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (Q.S.  An-Nisaa’: 43)
Pada ayat terakhir turunlah perintah tegas agar meninggalkan khamar dan hal itu berarti khamar adalah haram.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi, beribadah kepada berhala, mengundi nashib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keuntungan. (Q.S. Al-Maa’idah: 90-91)

Disinilah hikmah diturunkannya al-Quran secara berangsur-angsur, yaitu agar syariat tidak terasa berat dilaksanakan karena dijalankan secara sedikit demi sedikit hingga sempurna.

5. Turunnya al-Quran secara berangsur-angsur adalah sebagai bukti Bahwa Al-Qur’an Diturunkan Dari Sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji

Meskipun al-Quran diturunkan secara berangsur dalam waktu 23 tahun, namun setiap ayat al-Quran memiliki keteraturan dan keterkaitan antara satu dengan yang lain. Rangkaian kata yang bagus dan indah di setiap penggal suratnya tak ada bandingannya.

Hal ini menunjukkan bahwa al-Quran itu benar-benar dari Yang Maha Kuasa Allah. Jika tidak, pasti akan ada kekeliruan dan pertentangan dalam ayat-ayatnya. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisaa’ ayat 82 mengenai hal ini:

 اَفَلَا يَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ​ؕ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَيۡرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوۡا فِيۡهِ اخۡتِلَافًا كَثِيۡرًا
“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”
Itulah beragam hikmah dan manfaat diturunkannya al-Quran secara berangsur-angsur tidak sekali waktu. Semoga bermanfaat dan memberikan informasi positif kepada kita semua.


Powered by Blogger.